Satu hingga dua minggu terakhir ini, media diramaikan dengan berita video mirip Ariel, Luna dan Cut Tari.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa video "Peterporn" itu sangat memiliki efek yang besar bagi pengaruh pergaluan anak-anak remaja di Indonesia. Tiga puluh menit yang lalu saya mendapat kabar dari Trans7, bahwa sepasang mahasiswa di Lamongan tertangkap kamera melakukan perbuatan mesum di dalam ruang kuliah dan lebih tragis nya juga sepasang siswa SMP di Garut melakukan hal yang sama di toilet GOR.
Terbukti apa yang sudah dikhawatirkan pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan para orang tua pada umumnya sudah terjadi, maka pantaskah jika para pelaku harus dihukum seberat-berat nya sesuai hukum yang benar dan tepat.
Ada hal yang menggelitik bagi saya, ironi sekali, yang mana betapa yakin nya sebuah pihak menebak seorang teroris hanya melalui video yang remang-remang atau webcam yang kurang begitu jelas dan yakin untuk tembak mati ditempat. Tetapi betapa sulit nya memastikan siapa pelaku/pemeran video mesum mirip artis ini. Yang hampir bisa dipastikan 99% pelakunya.
Ada apa dibalik ini semua ?
Rabu, 16 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
Juni 2010 diawali dengan kekerasan
Begitu santer nya berita kekerasan di negeri ini maupun di dunia pada umumnya, apakah ini yang dimaksudkan dengan akhir jaman.
Seperti kekerasan Koja Tanjung Priuk akhir-akhir ini, berikut nya kekerasan di Duri Kosambi Cengkareng, sama-sama mengakibatkkan kerugian baik materi atau nyawa manusia.
Jika kita tengok apakah ini ciri baru bagi negara Indonesia, yaitu mengedepankan Kekerasan, mengapa saya katakan seperti ini. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana para anggota dewan yang notabene Wakil Rakyat-pun juga melakukan hal yang sama, Kekerasan selalu meyertainya baik dalam rapat dewan maupun rapat komisi. Adu mulut hingga adu otot bahkan bukanlah hal yang aneh untuk disaksikan publik. Secara tidak langsung anggota dewan telah memberi contoh nilai kekerasan bagi masyarakat.
Menelusuri bagaimana kondisi masyarakat kita, begitu mudah nya disulut dengan isu suku, ras atau agama, tidak lepas dari kondisi ekonomi, mengapa kondisi ekonomi mereka ? Ya, mereka selalu dipaksa untuk membeli komoditi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mahal, sedangkan daya beli justru menurun, karena ketidakberpihak nya Pemerintah kepada rakyat.
Kebijakan-kebijakan yang hanya berpihak kepada segelintir orang. Membiarkan perut rakyat nya lapar, jika kondisi sudah begini adanya maka disulut dengan isu yang sensitif akan terjadi pergolakan kekerasan. Faktor nya sungguh komplek.
Jadi siapa yang salah ?
Begitupun di Gaza, kekejaman Israel sungguh memilukan, serasa Israel tidak punya hati. Kekerasan begitu erat dengan hidup nya. Israel menyerang Kapal Mavi Marmara yang mengangkut rombongan aktivis untuk pengiriman bantuan ke Gaza, Israel pada Senin (31/5/2010).
Sungguh terkutuk Israel.
Seperti kekerasan Koja Tanjung Priuk akhir-akhir ini, berikut nya kekerasan di Duri Kosambi Cengkareng, sama-sama mengakibatkkan kerugian baik materi atau nyawa manusia.
Jika kita tengok apakah ini ciri baru bagi negara Indonesia, yaitu mengedepankan Kekerasan, mengapa saya katakan seperti ini. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana para anggota dewan yang notabene Wakil Rakyat-pun juga melakukan hal yang sama, Kekerasan selalu meyertainya baik dalam rapat dewan maupun rapat komisi. Adu mulut hingga adu otot bahkan bukanlah hal yang aneh untuk disaksikan publik. Secara tidak langsung anggota dewan telah memberi contoh nilai kekerasan bagi masyarakat.
Menelusuri bagaimana kondisi masyarakat kita, begitu mudah nya disulut dengan isu suku, ras atau agama, tidak lepas dari kondisi ekonomi, mengapa kondisi ekonomi mereka ? Ya, mereka selalu dipaksa untuk membeli komoditi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mahal, sedangkan daya beli justru menurun, karena ketidakberpihak nya Pemerintah kepada rakyat.
Kebijakan-kebijakan yang hanya berpihak kepada segelintir orang. Membiarkan perut rakyat nya lapar, jika kondisi sudah begini adanya maka disulut dengan isu yang sensitif akan terjadi pergolakan kekerasan. Faktor nya sungguh komplek.
Jadi siapa yang salah ?
Begitupun di Gaza, kekejaman Israel sungguh memilukan, serasa Israel tidak punya hati. Kekerasan begitu erat dengan hidup nya. Israel menyerang Kapal Mavi Marmara yang mengangkut rombongan aktivis untuk pengiriman bantuan ke Gaza, Israel pada Senin (31/5/2010).
Sungguh terkutuk Israel.
Sepenggal Kisah Lama ( dikutip dari La Luna )
Pertama menginjakkan kaki di Ibu Kota ( 08/'05) aku baru tahu "keras nya" hidup di kota besar. Beranjak dari sebuah daerah di timur Pulau Jawa, aku berharap bisa mendapat mimpi. Tetapi betapa sulit nya untuk mengawali semua ini, hanya kepada-Nya aku gantungkan harapan dengan berdoa dan selalu berusaha. I Love Allah SWT.
Langganan:
Komentar (Atom)
